Sabtu, 08 April 2017

Apakah Menjadi Konservatif Lebih Bahagia daripada Liberal? (Review)



Review Artikel:
Are conservatives happier than liberals? Not always and not everywhere.

Olga Stavrova, Maike Luhmann. Journal of Research in Personality 63 (2016) 29–35

 Reviewer: Isman Rahmani Yusron

          Penelitian ini mencoba memeriksa kembali beberapa kesimpulan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, mengenai tingkat kebahagiaan terkait ideologi yang dianut masyarakat. Beberapa penelitian sebelumnya menemukan fakta yang menyebutkan bahwa penganut konservatisme dilaporkan mendapat level kesejahteraan subjektif lebih tinggi daripada penganut liberalisme (Bixter, 2015; Jetten, Haslam & Barlow, 2013; Napier&Jost, 2008; Schlenker, Chambers & Le, 2012). Temuan ini kontras dengan gambaran peneliti psikologi sebelumnya yang menggambarkan konservatif sebagai ketakutan, kerapuhan, dan mudah terancam oleh ketidakpastian (Adorno,Frenkel-Brunswik, Levinson, & Sanford, 1950). Studi lain yang dilakukan oleh Onraet, Van Hiel, & Dhont (2013) melalui meta-analisis dari 9 studi menyebutkan terdapat hubungan positif yang signifikan meskipun kecil antara politik konservatf di satu sisi dan kebahagiaan atau kepuasan hidup di sisi lainnya. Temuan-temuan ini menggambarkan kebahagiaan suatu masyarakat, terkait dengan konservatisme sosiopolitik.
      
    Namun temuan-temuan tersebut memiliki keterbatasan yang sama: studinya didasarkan pada data yang diambil di Amerika pada periode 1990an hingga 2000 pada saat ideologi konservatif lebih besar daripada liberal. Stavrova & Luhmann (2016) mencoba menguji kembali mengenai “happiness gap” antara konservatif dan liberal yang ada pada periode berbeda di Amerika beberapa tahun terakhir (Studi 1) juga pada 92 negara lainnya di dunia (Studi 2). Pada studi ini Stavrova & Luhmann mencoba melakukan pengujian baru mengenai ideological gap of happiness yang berakar pada literatur person-culture fit dan shared reality. Studi ini mencoba meningkatkan pemahaman mengenai mekanisme yang melatarbelakangi asosiasi positif antara ideologi konservatif dan kebahagiaan. Penelitian ini melakukan pemeriksaan sistematis dari variasi antar budaya dalam waktu tertentu dalam kaitannya antara ideologi politik dan kebahagiaan.

Peneliti dalam penelitian ini berasumsi bahwa penyesuaian individu terhadap lingkungannya juga berperan terhadap munculnya kebahagiaan. Menurut perspektif person-cultur fit, individu menunjukkan kepuasan yang tinggi dan penyesuaian psikologis saat atribut personalnya sesuai dengan lingkungannya (Fulmer et al., 2010; Stavrova, Schlösser, & Fetchenhauer, 2013). Hal ini menjadi poin pijakan dalam mengkritisi beberapa penelitian sebelumnya terkait ideologi politik konservatif yang berkorelasi positif dengan kebahagiaan. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan sebelumnya, banyak bukti yang menyebutkan bahwa pemilihan ideologi dilandasi oleh keinginan untuk berafiliasi dengan kelompok sosial tertentu disekitarnya (Greene, 1999; Stangor, Sechrist, & Jost, 2001). Dalam hal ini, mendukung dan menjadi bagian dari ideologi politik tertentu dapat memuaskan kebutuhan relasional, dan berhubungan dengan tingginya kebahagiaan.

Penelitian dari Kruglanski & Orehek (2012) menyebutkan bahwa individu cenderung menerima informasi baru sebagai kebenaran sejauh informasi tersebut dibagikan oleh grup sosialnya. Sehingga, keyakinan ideologis membuat individu dalam kelompok memiliki lensa yang sama dalam memandang dunia yang menjamin kepastian dan kebenaran yang dilakukan selama sesuai dengan lingkungannya. Baik keyakinan ideologi konservatif maupun liberal memberikan kontribusi pada “sense of shared reality”, yang memunculkan hipotesis bahwa hidup dengan orang yang seideologi akan meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Dimensi Psikologis Utama dalam Perbedaan Antar Budaya (Review)


Review Artikel :
Major psychological dimensions of cross-cultural differences: Nastiness, Social Awareness/Morality, Religiosity and broad Conservatism/Liberalism.
Lazar Stankov, Learning and Individual Differences 49 (2016) 138–150.

Reviewer : Isman Rahmani Yusron

          Perbedaan kultur diantara berbagai wilayah, region dan negara yang berbeda merupakan sebuah keniscayaan. Masing-masing masyarakat di area terdekatnya, berkecenderungan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi cara pikir, pola hidup, tatanan masyarakat, politik dan berbagai elemen kultur lainnya. Konsensus masyarakat yang diakui secara luas menghasilkan sebuah budaya tertentu dengan sekumpulan karakteristik sistem nilai yang mendasar pada kehidupan. Dalam sudut pandang psikologi, budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karakteristik individual maupun masyarakat. Meski terbilang abstrak, elemen-elemen kultur yang menjadi basis nilai dan perilaku individu dapat menjadi variabel yang membedakan sekaligus menggambarkan suatu budaya dengan budaya lainnya.

          Atas dasar hal itu, timbul suatu pertanyaan mengenai dimensi psikologis apa yang menjadi variabel utama dalam membedakan suatu kultur masyarakat tertentu dengan kultur masyarakat lainnya? Serangkaian studi yang dilakukan Lazar Stankov (2016) yang diterbitkan dalam jurnal Learning and Individual Differences, mencoba menemukan dimensi psikologis pokok yang membedakan perbedaan kultural. Penelitian ini dilakukan kepada 8883 partisipan di 33 negara di dunia dengan mengujikan seperangkat pengukuran yang mencakup kepribadian, sikap sosial, norma sosial, dan berbagai dimensi psikologis untuk menghadirkan faktor dimensi utama yang membedakan antar budaya.

          Penelitian yang dilakukan Stankov pada kurun 2009-2012 ini menggunakan 4 dimensi konstruk non kognitif meliputi tes Big Six personality yang dimodifikasi, skala sikap sosial (Social Attitude and Values), Social Axioms, dan Social Norms (four GLOBE dimension). Partisipan merupakan mahasiswa dari 33 negara yang datanya diambil secara daring dengan seperangkat konstruk tadi yang dinamakan Survey of World Views. Rerata usia dari partisipan dalam penelitian ini adala 22.32 tahun dengan standar deviasi 5,62 dan 57% diantaranya merupakan perempuan. Ke-33 negara yang menjadi sampel penelitian ini diklasifikasikan kedalam 9 wilayah region yakni Asia Tenggara, Sub-Sahara Afrika, Asia Selatan, Amerika Latin, Timur Tengah/Afrika Utara, Eropa Barat, wilayah Anglo, dan Asia Timur.

Efek Stres Kronis pada Struktur dan Fungsi Prefrontal Cortex Remaja (Review)


Review Artikel Neuropsikologi:

Effect of chronic stress during adolescence in prefrontal cortex structure and function.

Otávio Augusto de Araújo Costa Folha, Carlomagno Pacheco Bahia, Gisele Priscila Soares de Aguiar, Anderson Manoel Herculano, Nicole Leite Galvão Coelho, Maria Bernardete Cordeiro de Sousa, Victor Kenji Medeiros Shiramizu, Ana Cecília de Menezes Galvão, Walther Augusto de Carvalho, Antonio Pereira. 
Behavioural Brain Research 326 (2017) 44–51

Reviewer : Isman Rahmani Yusron (407565)

A. Pendahuluan

          Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek dari stress kronis pada usia remaja pada struktur dan fungsi prefrontal korteks. Prefrontal korteks merupakan area otak yang berada pada lobus frontalis, yang berhubungan dengan fungsi eksekutif seperti mengorganisasikan, mengontrol, serta mengatur perilaku, dan membuat keputusan yang besar terutama perilaku yang berhubungan dengan sosial, memutuskan untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu (Zillmer, Spiers, & Culbertson, 2008). Prefrontal korteks ini berperan penting untuk regulasi diri serta hal yang berhubungan dengan fleksibilitas kognitif. Berbagai gangguan kognitif seperti ADHD, autisme, gangguan bipolar, depresi, skizofrenia berhubungan dengan ketidakberfungsian dari prefrontal korteks.

          Dalam pendahuluan artikel ini, Folha dan timnya (2017, p. 45) menyitir penelitian dari Hanson, et.al, 2012; Mizoguchi, et.al, 2000; Rolls 2004, yang menyebutkan bahwa cedera di area prefrontal korteks, terutama di area Medial Prefrontal cortex (MPC) dan Orbitofrontal Cortex (OFC), erat berhubungan dengan gangguan working memory, serta buruknya penilaian dan maladaptasi pengambilan keputusan yang menjadikan individu tidak memiliki kemampuan untuk mengantisipasi konsekuensi dari tindakannya. Dalam konteks penelitian ini, rusaknya area prefrontal korteks dihubungan dengan hasil dari stress kronis pada individu. Dengan kata lain, yang menjadi latar belakang dari penelitian ini ialah dimana stress kronis yang rentan dialami individu akan sangat berisiko pada perkembangan dan cederanya prefrontal korteks yang akan menyebabkan berbagai macam gangguan kognitif.

          Kondisi stress kronis atau pengalaman yang menyebabkan stress pada individu, akan secara langsung meningkatkan kadar kortisol yang dapat merusak perkembangan dari prefrontal korteks (Lupien et.al, 2009 dalam Folha et al., 2017). Pengalaman stress akan memicu kelenjar pituitary pada hipotalamus anterior untuk melepaskan glucocortisoid yang membuat kelenjar adrenal memproduksi kortisol yang banyak. Sehingga, banyaknya kadar kortisol ini berpengaruh pada beberapa organ yang berhubungan dengan respon stress terutama dalam penelitian ini pada rusaknya prefrontal korteks.

Kerentanan pengalaman stress kronis, pada penelitian ini, terutama adalah pada tingkat perkembangan remaja. Menyandarkan pada penelitian Niwa, et.al (2013) & Sinclair, et.al (2014), pada usia remaja, individu berada pada periode yang disebut Critical Periods of Cortical Development dimana seseorang rentan terpengaruhi oleh pengalaman stress kronis. Kemudian dalam abstrak penelitian ini, periode individu berada pada interval perkembangan dimana sirkuit neuronal mudah terpengaruhi oleh liingkungan disebut sebagai Critical Periods of Plasticity (CPPs). Peneilitian ini berfokus pada usia remaja karena pada usia ini banyak terpapar situasi stress dan banyaknya kondisi neuropsikiatrik yang terdiagnosa pada usia remaja (Christie et.al, 1988; Costello et.al, 2008; Mels et.al,2010; Kieling et.al; 2011 dalam Folha et al., 2017). Sehingga, peneliti dalam penelitian ini berasumsi bahwa tingkat resiko yang tinggi akibat stress kronis adalah pada saat periode kritis dari plastisitas (CPPs), yang dimana periode ini terjadi pada usia perkembangan remaja.

B. Metode dan Hasil Penelitian

Penelitian yang dilakukan Folha serta timnya ini mempelajari bagaimana efek dari stress kronis pada struktur dan fungsi Prefrontal Corteks pada tikus pada saat perode kritis plastisitas (CPPs). Secara spesifik, penelitian ini melihat efek dari stress kronis pada distribusi spatial-temporal dari perineuronal net (PNN+) neuron dalam prefrontal korteks dan pada tes fungsi eksekutif pada tingkat perkembangan remaja. Penelitian ini menggunakan 48 tikus Wistar (Rattus novergicus) jantan berusia 28 hari sejak dilahirkan. Tikus-tikus secara random dibagi pada kelompok eksperimen (n=24) dan kelompok kontrol (n=24). Masing-masing kelompok dibagi pada tiga subgrup yang pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan lingkungan stress selama 7 hari (n=8), 15 hari (n=8) dan 35 hari (n=8) pada masing-masing subgrup.

Kelompok tikus eksperimen diberikan lingkungan stress kronis dengan diberikan kondisi dikurung dalam tabung plastik selama 2 jam tanpa makanan atau air; dimandikan dalam tank silinder (tinggi 60cm x diameter 30cm) selama 30 menit dalam air panas 32 derajar C; dipasangkan dengan tikus stress lainnya dalam serbuk gergaji basah selama 18 jam; ditempatkan pada kondisi cahaya gelap dan terang bergantian; ditempatkan pada ruangan sesak yakni 8 tikus pada kandang berukuran 4x3x2cm selama 24 jam; dijepit ekor selama 10 menit; diberikan udara panas (mendekati 38 derajat C) dengan hairdryer selama 10 menit. Berbagai kondisi stress ini diberikan kepada tikus secara random bergantian selama 7 hari pada subgrup pertama, 15 hari pada subgrup kedua, dan 35 hari pada subgrup ketiga. Paradigma eksperimen ini disandarkan pada penelitian Duccotet dan timnya (2003).  

Rabu, 08 Maret 2017

Teori Gf-Gc Catell & Horn : Asal Mula CHC Theory of Cognitive Abilities

Oleh : Isman Rahmani Yusron

Raymond Catell
Raymond Catell dan John Horn, merupakan dua tokoh penting dalam perkembangan teori CHC (Catell’s-Horn-Caroll). Keduanya, mengembangkan teori tentang tes intelegensi kontemporer yang didukung oleh bukti empiris berdasarkan prinsip-prinsip psikometrika. Flanagan & Harrison (2012), menyebut bahwa teori CHC ini merupakan pendekatan yang paling komprehensif dan didukung secara empiris oleh teori psikometrik dalam menjelaskan struktur kemampuan kognitif. Diawali oleh Catell pada awal tahun 1940an, yang membuka jalan kemungkinan untuk memperluas pendekatan teori intelegensi yang tidak hanya diklasifikasikan hanya general dan special factor sebagaimana teori dari Spearman, secara simpel Catell membelah g-factor menjadi dua bagian yang akan dijelaskan kemudian. Catell yang merupakan mahasiswa Doktoralnya Spearman, membangun pengembangan pendekatan intelegensi berbeda dari mentornya sendiri. Begitupun perkembangan teori yang dibangun Catell sendiri, dikembangkan lagi menjadi lebih luas hingga menjadi model 8 faktor oleh John Horn yang merupakan murid dari Raymond Catell. Pengembangan tersebut kemudian dikenal sebagai Catell-Horn Gf-Gc Theory.

Perkembangan Catell-Horn Gf-Gc Theory
Beberapa tahun kemunculan dan perluasan teori g yang dipionir oleh Spearman, banyak psikolog dan ilmuwan psikologi membantah teori ini. Thurstone salah satunya, beserta psikolog lain yang menentang teori g dan s Spearman, lebih mendukung dan menekankan perombakan teori g pada pendekatan multiple ability (Kaufman, 2009). Ditengah perdebatan mendukung dan menentang teori g Spearman, Catell yang merupakan mahasiswa doktoral Spearman, secara simple membagi faktor g menjadi dua kemampuan yakni Fluid Intelligence (Gf) dan Crystallized Intelligence (Gc). Teori yang diajukan Catell mengenai Gf-Gc yang merupakan dikotomi konseptual mengenai kemampuan kognitif individu, berbasis pada teori faktor analitik yang digunakan oleh Thurstone pada tahun 1930an (Flanagan & Dixon, 2013). Fluid Intelligence mengacu pada kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah baru dengan menggunakan kemampuan reasoning, sedangkan Crystallized Intelligence mengacu pada kemampuan yang berasal dari pengetahuan yang sangat bergantung pada pendidikan dan akulturasi serta resisten dari dampak pertambahan usia. Mengenai Fluid Intelligence, Catell percaya bahwa elemen ini merupakan bentuk dari fungsi faktor biologis dan neurobiologis yang sangat rentan terpengaruh oleh pertambahan usia (Kaufman, 2009). Gf dipercayai Catell, merupakan hasil dari belajar insidental individu dengan lingkungannya, yang mencakup kemampuan penalaran induktif dan deduktif yang dipengaruhi oleh faktor biologis dan neurobiologis (Flanagan & Dixon, 2013).

Minggu, 26 Februari 2017

Bodo Alewoh

“Hirup mah kudu bodo alewoh, ulah bodo katotoloyoh”
Ungkapan diatas merupakan salah satu paribasa (peribahasa) Sunda, yang mengandung filosofi yang dalam dan selalu relevan tak dibatas zaman. Makna tersuratnya adalah bahwa hidup ini harus bodoh tapi mau bertanya, jangan bodoh tapi tidak mau bertanya. Namun dibalik itu, makna tersiratnya mencerminkan berbagai dimensi baik kepribadian, perilaku, sosial bahkan tentang bagaimana menjalani hidup dan menghadapi kehidupan. Makna paribasa Sunda ini menyiratkan bahwa dalam hidup ini kita mesti senantiasa memahami keterbatasan kita sendiri, namun tidak pasrah atau bahkan nyaman dengan keterbatasan.
Dalam dimensi kepribadian, paribasa ini meminta kita agar selalu menjadi pribadi yang mawas diri dan termotivasi mengembangkan diri. Menjadi pribadi yang bodo alewoh adalah pribadi yang senantiasa memahami keterbatasan diri, tidak congkak dan merasa paling benar. Paribasa ini mengajarkan kita agar senantiasa rendah hati dan menempatkan diri sebagai gelas kosong yang siap untuk menerima segala masukan, kritikan hingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Menjadi bodoh dijadikan sebagai jalan untuk mendapat lebih banyak pengetahuan, yang dengannya kita mendapatkan kebijaksanaan.
Menjadi pribadi yang bodo katotoloyoh adalah, menempatkan diri sebagai pribadi yang resisten dan apatis pada pengetahuan. Merasa paling tau dan paling benar, sehingga malas menambah pengetahuan, resisten pada kritik akan kesalahan adalah cermin dari bodo katotoloyoh. Dengan menempatkan diri sebagai pribadi yang bodo katotoloyoh, seseorang tidak akan bisa berkembang karena selalu merasa cukup pada keyakinan subjektif dan tak mau menerima masukan. Malas mencari tahu, merasa paling benar sendiri, resisten pada kritik dan masukan adalah jalan menuju jurang kejumudan.
Pada dimensi sosial, menjadi bodo alewoh adalah luwes dan toleran pada perbedaan. Sudah menjadi tabiat manusia, dimana seseorang senantiasa ingin mentransfer nilai-nilai dan sudut pandang pribadinya pada orang lain di lingkungan sosial. Menjadi bodo alewoh, adalah dengan keterbukaan hati senantiasa menggali keunikan manusia yang berbeda-beda isi kepalanya. Memaknai manusia yang unik di lingkungan sosial bagi pribadi yang bodo alewoh adalah preferensi diri untuk senantiasa belajar bijaksana dalam bersikap. Menerima perbedaan sudut pandang dan menggali serta memahami latar belakang segala nilai yang dimiliki manusia lain, adalah cermin bodo alewoh pada lingkungan sosial.
Sebaliknya, menjadi bodo katotoloyoh dalam lingkungan sosial adalah menjadi seorang yang hanya ingin didengar namun tak mau mendengar. Bodo katotoloyoh, menjadikan seseorang susah menerima perbedaan dalam kehidupan sosial karena selalu bersikap rigid dan sulit beradaptasi. Bodo katotoloyoh juga bermakna keras kepala, dan sudah menjadi aturan yang universal kiranya, bahwa lingkungan sosial akan sangat resisten bagi pribadi yang tak mau menyesuaikan diri.
Kehidupan sosial sejatinya memang sangat dinamis, transformasi nilai antar personal menjadi keniscayaan, sehingga jenis manusia yang bodo katotoloyoh akan sulit berasimilasi pada kehidupan sosial. Kehidupan sosial tak mensyaratkan harus menerima segala bentuk transfer nilai, namun menempatkan diri sebagai pribadi yang sulit menoleransi keunikan individu, menjadi jalan menuju isolasi sosial. Bodo katotoloyoh dalam konteks sosial, berbentuk pribadi maupun kelompok merupakan jenis kekakuan yang resisten pada sumber-sumber wawasan sosial yang sejatinya beragam.
Dalam konteks kehidupan, menjadi bodo alewoh adalah menjadi bagian dari warna kehidupan yang selaras dan harmoni dengan warna kehidupan lainnya. Bodo alewoh sudah sepatutnya menjadi jatidiri kultur masyarakat. Karena masyarakat yang bodo alewoh adalah masyarakat yang mau berkembang karena senantiasa beradaptasi pada kehidupan dinamis yang niscaya. Perkembangan kehidupan global dengan kedinamisan yang ekstrim, meniadakan manusia “pintar” yang mudah merasa cukup. Karena itu, bodo alewoh adalah cerminan kultur yang adaptif dan senantiasa responsif pada perubahan kehidupan.
Terus bertanya dan mempertanyakan (bodo alewoh), sejak jaman kuno, adalah jalan menuju aktualisasi manusia dalam meraih kemajuan peradaban. Maka, menciptakan kultur bodo alewoh adalah kunci dalam meraih kemajuan peradaban manusia. Namun, jika mengembangkan kultur yang bodo katotoloyoh, membudayakan resisten pada pengetahuan, sudut pandang baru, kemajuan zaman, bahkan hingga intoleran pada perbedaan individu maupun masyarakat, maka siap-siaplah menjadi bongkahan batu raksasa di hulu sungai jernih nan deras yang takkan pernah bergerak menuju lautan kehidupan. Kita akan selalu tertinggal, stagnan tak bergerak, karena tak memiliki budaya curiousity, dan sulit beradaptasi dengan keberagaman ditengah kehidupan yang semakin global. [IRY]
*) Tulisan ini saya dedikasikan untuk almarhum paman saya, yang juga budayawan Sunda Drs.Cece Hidayat, M.Pd, yang selalu mengajari saya tentang filosofi kesundaan sejak saya kecil. Semoga Mang Ace mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya

Selasa, 14 Februari 2017

Merasa Puas Menyebar Kebohongan

Mencermati perilaku masyarakat belakangan ini, terutama di sosial media dan internet secara umum, sangat menarik meski terkadang menggelikan atau bahkan membuat semakin sering mengelus dada. Terutama saat mendekati momen perebutan kekuasaan dan konstelasi politik, semakin banyak fenomena-fenomena gangguan perilaku yang negatif berskala besar. Pembuatan dan penyebaran informasi serta gambar-gambar hoax misalnya. Perilaku ini kian hari kian sering saja kita saksikan, terlepas dari motif kepentingan dibelakangnya, namun perilaku ini memberikan indikasi kekurang sehatan mental yang semakin massif.
Tidak perlu dibahas persoalan siapa mendukung siapa, atau menjadi tim sukses siapa, bahkan fanatis pada salah satu calon, dalam batas tertentu itu wajar saja. Setiap orang memiliki pilihan, memiliki jagoan yang ingin dimenangkan, sangat wajar sekali apalagi terkait dengan kepentingan politis. Tak ada yang salah, saat orang berhasrat memenangkan salah satu calon, dan berharap calon lainnya tidak menang. Namun, jika motif-motif politik tadi sudah sampai pada memberikan intensi seseorang untuk terilhami melakukan perilaku yang negatif bahkan antisosial secara sadar, ini yang jadi masalah.
Salahsatu perilaku negatif yang fenomenal saat ini adalah, semakin banyak orang yang memiliki intensi menyebarkan informasi palsu atau menyebarkan kebohongan (populernya menyebarkan hoax). Jika kita menyempatkan diri memahami gejala ini, kita akan dapatkan beberapa hal: pertama, informasi dan gambar-gambar hoax itu jelas ada yang membuat; Kedua, hampir tidak mungkin pembuat hoax itu tidak menyadari bahwa informasinya palsu atau bohong; Ketiga, membuat dan menyebarkannya memerlukan effort yang tidak mudah, Sehingga memang diniatkan dengan penuh kesadaran; Keempat, tidak bisa dinafikkan tentu si pembuat hoax tau akibat dari penyebaran informasi palsu yang dibuatnya; Terakhir, pembuat informasi hoax ini tentu sudah membuat pilihan yang bertentangan dengan nalarnya sendiri.
Dari hal-hal tersebut, tidak berlebihan kiranya saya bilang bahwa pembuat informasi hoax tidak sehat mentalnya. Kenapa? Karena dia berupaya secara penuh kesadaran menepikan suara hatinya sendiri untuk tetap membuat informasi yang jelas diketahui oleh dirinya sendiri bahwa itu bohong. Padahal, si pembuat berita hoax memiliki kuasa atas dirinya sendiri untuk memilih tidak berbohong. Artinya, ada semacam impuls negatif yang jauh lebih kuat mendorong daripada kuasa sadarnya sendiri. Dia tahu, faham, bahkan hatinya yakin yang dibuat oleh dirinya adalah kebohongan, tapi intensi untuk membuat kebohongan tetap dilakukan meski bertentangan dengan kesadarannya sendiri.
Dalam hal ini saya memiliki hipotesa, bahwa si pembuat berita hoax mendapatkan kepuasan dan kesenangan jika informasi bohongnya berhasil menjadi viral melalui berbagai talang media. Pasalnya, saya menemukan si pembuat informasi hoax tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Entahlah, apakah rasa bersalahnya sudah hilang tenggelam oleh kepuasan mendapati informasinya dibagikan oleh ribuan orang dengan respon like yang sangat banyak atau malah sejak awal tak merasa bersalah sama sekali. Namun yang jelas, logika awampun pasti dapat menyadari bahwa mendapatkan kepuasan dari berbohong bukan indikasi dari mental yang sehat.
Semakin massif dan viralnya informasi hoax, juga berimplikasi pada ketidaksehatan konsumen informasi tersebut. Konsumen informasi hoax, seolah mendapatkan fasilitasi pembenaran dari berbagai prasangka yang tidak nyata. Namun prasangka dan lamunan itu difasilitasi jadi keyakinan akibat munculnya informasi palsu yang sesuai prasangkanya. Satu fakta lagi muncul, pembuat berita hoax tau jelas selera masyarakat! Sekali lagi, high order thinking nya memang berfungsi, tapi tidak difungsikan dalam menghasilkan fakta yang mencerahkan melainkan menyesatkan.
Masyarakat yang kebingungan untuk mencari kepastian dari prasangka-prasangkanya, akhirnya mendapatkan kepuasan dari kemunculan informasi-informasi hoax tersebut. Gejala dari prasangka memang memiliki hasrat yang tinggi untuk mendapati fakta agar secara mantap meyakini sangkaannya. Karena berada dalam ketidak pastian tidak cukup nyaman bagi dirinya walau prasangka tersebut hasil dari buah pikirannya sendiri. Faktor inilah yang pada akhirnya informasi hoax begitu digemari. Meskipun, saya pribadi meyakini bahwa pengonsumsi informasi hoax itu tak sepenuhnya yakin bahwa fakta yang didapatkannya benar, atau bahkan tau betul bahwa itu bohong. Lagi-lagi pengetahuan tentang kebohongan itu tak merintangi diri untuk tetap ikut menyebarkan kebohongan.
Akhirnya, viralnya informasi hoax menjadi lingkaran yang menjerat masyarakat pada ketidaksehatan mental. Semakin banyak orang yang terpuaskan dari informasi yang bohong dan menyesatkan. Daya kritis menjadi lemah, karena memang informasi yang bohong itulah yang ingin seolah-oleh benar terjadi. Akhirnya, yang terjadi bukan siapa membohongi siapa, tapi bersama-sama menikmati bahwa kebohongan itu menyenangkan. Ini jelas tidak wajar, namun sangat banal terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Tak berlebihan, saya katakan kita mesti berhati-hati pada setiap informasi, karena hoax mengarah pada efek negatif bagi kesehatan mental.
Mendapati kenyataan tak sesuai dengan harapan memang berat diterima. Namun, hal itu jangan menjadikan kita mengakali dengan berbagai cara agar harapan harus selalu sesuai kenyataan, hingga mesti memproduksi dan mengonsumsi fakta palsu. Belajar menerima kenyataan tak sesuai harapan, adalah langkah awal terlepas dari belenggu candu hoax. Menyadari bahwa semua orang bisa membuat informasi apa saja, ngomong apa saja, menulis apa saja tanpa mengindahkan bahwa itu bohong atau tidak, sangat perlu. Sehingga, melalui kesadaran itulah kita terhindar dari candu hoax. Terakhir, kekritisan dan kedisiplinan berfikir jadi sangat penting di era informasi yang serba terbuka ini.
Tulisan ini saya tekankan tidak dalam rangka ikut berpolemik pada hiruk pikuk politik, selamat berperilaku sehat!

Rabu, 01 Februari 2017

Manusia Bijaksana

Sering kita mendengar, kata “bijaksana” atau “kebijaksanaan”, tapi sedikit orang memahami artinya. Kebijaksanaan, yang dalam istilah yunani disebut “sophos”/”sophia”, merupakan suatu sifat yang perlu dimiliki manusia. Terutama di zaman yang serba terkoneksi secara sosial dengan dunia yang luas, menjadi bijaksana adalah sebuah kebutuhan. Karena, tanpa itu, dengan mudah seseorang akan melupakan bahwa setiap manusia memiliki sisi yang perlu ditoleransi.
Setidaknya, kebijaksanaan memiliki empat unsur utama, yakni; logis, etis, estetis, dan teologis. Logis, berarti bahwa kita telaten dan disiplin betul dalam menggunakan akal pikiran kita. Berfikir secara logis, adalah latihan untuk mencerna segala peristiwa dan informasi secara radikal (radikal berasal kata dari radix, yang artinya akar). Apa yang kita dapatkan perlu dikunyah dengan telaten oleh pikiran kita sendiri sampai pada akar yang paling dalam, sebelum kita melontarkan sebuah kesimpulan. Sehingga, proses mental kita terlatih untuk jernih mencerna sebuah masalah, dan dapat dijadikan dasar untuk berkomentar (tidak asal berujar).
Selain logis, kita juga perlu memiliki etis. Etis berarti bahwa kita mempertimbangkan betul unsur kebaikan atau etika sesama manusia yang dapat diterima. Etis juga terkait afeksi, mempertimbangkan perasaan dalam setiap perilaku yang kita lakukan, dan mempertimbangkan apakah selaras dengan kesepakatan umum. Kadang, kita berbicara logis, tapi tak jarang melukai perasaan orang lain atau tidak sesuai dengan norma yang berlaku umum, ini contoh dimana kita memiliki logis tapi tidak etis. Etis diperlukan, agar produk logika kita diterima dengan baik oleh orang lain, sehingga pendapat yang kita lontarkan berefek positif bukan malah menimbulkan ancaman bagi orang lain.
Kemudian selanjutnya kita juga perlu memiliki estetis. Estetis seperti kita tau, terkait dengan keindahan dan hal-hal yang bersifat elok. Estetis diperlukan agar produk logika kita tidak hanya sebatas masuk diakal, namun juga menimbulkan kesan yang mendalam pada penerimanya. Sebagaimana kita pahami, kebenaran kadang terdengar pahit dan menyakitkan, namun jika kemasannya elok dan disampaikan secara etis, prodak logika kita akan efektif menghasilkan perubahan.
Terakhir, yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah aspek teologis atau ilahiah. Menjadi bijaksana, adalah menydari bahwa diri adalah makhluk yang diciptakan sang khalik yang Maha Benar. Sehingga, apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, tidak terlepas dari kesadaran bahwa semuanya harus dikembalikan kepada sang pencipta. Melalui kesadaran ilahiah ini, kita akan terhindar dari sifat merasa paling benar dan nirkesalahan. Kesadaran teologis ini juga membawa kita memahami dan mentoleransi kesalahan sesama manusia, karena memang hanya tuhan lah maha pemilik kebenaran.
Keempat unsur ini, perlu kita upayakan dalam setiap langkah kita agar kita memiliki sifat bijaksana. Semoga kita semua menjadi “manusia bijaksana”, walau yang maha bijaksana adalah Allah swt., semoga dengan kita berikhtiar mencarinya, kita diberi sepercik kebijaksanan oleh-Nya. Wallahu a'lam bishawab.